Rabu, 02 Mei 2012

0
PEMENGGALAN KATA DASAR


PEMENGGALAN KATA DASAR

  1. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan kata itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah. Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu. Misalnya:  au-la bukan a-u-la; sau-da-ra bukan sa-u-da-ra; am-boi bukan am-bo-i
  2. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan. Misalnya: ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir
  3. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan. Misalnya: man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa, makh-luk
  4. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua. Misalnya: in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las
PEMENGGALAN KATA BERIMBUHAN
.    Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris. Misalnya:  makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah
      Catatan:
    a.  Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya      tidak dipenggal.
    b.  Akhiran -i tidak dipenggal.
    c.  Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata      dilakukan sebagai berikut. Misalnya: te-lun-juk, si-nam-     bung, ge-li-gi


PEMENGGALAN KATA GABUNG
Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan kata dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c, dan 1d di atas. Misalnya: bio-grafi, bi-o-gra-fi; foto-grafi, fo-to-gra-fi; intro-speksi, in-tro-spek-si; kilo-gram, ki-lo-gram; kilo-meter, ki-lo-me-ter; pasca-panen, pas-ca-pa-nen
Keterangan:
        Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.
PENGGUNAAN HURUF KAPITAL

1.    Huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya:
        (a) Apa maksudnya?
        (b) Pekerjaan itu belum selesai.
2.    Huruf pertama petikan langsung. Misalnya:
        (a) Adik bertanya, "Kapan kita pulang?“
        (b) Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!“
        (c) "Kemarin engkau terlambat," katanya.
        (d) "Besok pagi," kata Ibu, "Dia akan berangkat".
3.   Huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya:  Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen; Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya; Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4.    Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya:  Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim
5.    Huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya: Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husen Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Gubernur Irian Jaya
Tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat. Misalnya: Siapa gubernur yang baru dilantik itu?; Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
6.   Huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya:  Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman, Ampere.Tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran. Misalnya:  mesin diesel, 10 volt,  5 ampere,.
7.    Huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa. Misalnya:  bangsa Indonesia, suku Sunda,  bahasa Inggris
Tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan. Misalnya:  mengindonesiakan kata asing, keinggris-inggrisan
8.   Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: bulan Agustus, hari Natal, bulan Maulid, Perang Candu, hari Galungan, tahun Hijriah, hari Jumat, tarikh Masehi, hari Lebaran, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama. Misalnya: Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya. Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

PENGGUNAAN HURUF MIRING
  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

          Misalnya:     majalah Bahasa dan Kesusastraan
                              buku Negarakertagama karangan Prapanca
                              surat kabar Suara Karya
     2.  Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata,  atau kelompok kata.
          Misalnya:     Huruf pertama kata abad ialah a.
                             Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
                             Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
                             Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
   3.  Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:     Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
                        Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
                        Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi 'pandangan dunia'.

PENULISAN KATA TURUNAN
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
   Misalnya: bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
   Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
   Misalnya: menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan, penghancurleburan
.    
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
      Misalnya: adipati, mahasiswa, aerodinamika, mancanegara, antarkota, multilateral, anumerta, narapidana, audiogram, nonkolaborasi, awahama, Pancasila, bikarbonat, panteisme, biokimia, paripurna, caturtunggal, poligami, dasawarsa, pramuniaga, dekameter, prasangka, demoralisasi, purnawirawan, dwiwarna, reinkarnasi, ekawarna, saptakrida, ekstrakurikuler, semiprofesional, elektroteknik, subseksi, infrastruktur, swadaya, inkonvensional, telepon, introspeksi, transmigrasi, kolonialisme, tritunggal, kosponsor, ultramodern

Catatan:
(1)  Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu  dituliskan tanda hubung (-). Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme
(2)  Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
      Misalnya:    Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
                        Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

PENULISAN KATA ULANG
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya: anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra

PENULISAN GABUNGAN KATA
1.     Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
        Misalnya: duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.
2.     Gabungan kata yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
        Misalnya: alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda
3.     Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
        Misalnya: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam

PENULISAN KATA GANTI KU,MU, KAU, DAN NYA
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

PENULISAN KATA DEPAN DI, KE, DAN DARI
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:

Kain itu terletak di dalam lemari.
Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ia datang dari Surabaya kemarin.

PENULISAN PARTIKEL
1.  Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
     Misalnya:                Bacalah buku itu baik-baik..
                        Apakah yang tersirat dalam surat itu?
                        Apatah gunanya bersedih hati?
2.  Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
     Misalnya:                Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
                        Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
3.  Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
    Misalnya:      Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
                        Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
                        Harga kain itu Rp 2.000 per helai.

PENULISAN SINGKATAN
1.  Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya: A.S. Kramawijaya, Muh. Yamin, Suman Hs., Sukanto S.A., M.B.A., M.Sc., S.E., S.Kar., S.K.M., Bpk., Sdr., Kol.
2.  Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misalnya: DPR, PGRI, GBHN, SMTP, PT, KTP.
3.  Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya: dll., dsb., dst., hlm., sda., Yth.
    Tetapi: a.n., d.a., u.b., u.p., s.d.
4.       Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya:  Cu,  TNT, cm, kVA, l, kg, Rp

PENULISAN AKRONIM
  1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya: ABRI, LAN, PASI, IKIP, SIM.
  2. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Misalnya: Akabri, Bappenas, Iwapi, Kowani, Sespa.
  3. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu, radar, rapim, rudal, tilang.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Selamat Datang Di Sini | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog